Motor educability
Oleh Gatot Jariono
Motor educability adalah suatu istilah yang cukup popular di kalangan guru-guru olahraga, karena berkenaan langsung dengan pengungkapan cepat lambatnya seseorang menguasai suatu keterampilan baru secara cermat. Dengan kata lain, ”motor educability diartikan sebagai kemampuan umum untuk mempelajari tugas secara cepat dan cermat” (Cratty dalam Lutan, 2005:116). Konsep tersebut dapat dianalogikan dengan konsep psikologi, yakni intelegensi sehingga sering disebut dengan istilah motor intelegensi.Motor educability berasal dari bahasa Inggris yang menurut uraian Pino dan Wittermans (dalam Syarifuddin, 1996:16), ”motor artinya bergerak, educatic artinya pengetahuan, dan ability artinya kemampuan.” Rangkaian kedua kata menimbulkan istilah motor educability yang memberikan pengertian kemampuan umum bagi seseorang dalam menguasai atau menerima gerakan baru.
Dengan susah payah seseorang mempelajari aktivitas-aktivitas yang baru dikenalnya.” Untuk itu, tes kemampuan motor educability merupakan tes intelegensi karena berfungsi dalam mengingat, berpikir, menganalisis, sekaligus memperagakan gerakan-gerakan yang dimaksud. Fleishman (dalam Syarifuddin,1996:172) mengatakan, ”kecakapan individu dalam mempelajari keterampilan motorik tertentu ditentukan secara luas oleh tingkat kecakapan persepsi dan kecakapan motorik yang dibutuhkan oleh suatu keterampilan.”
Sekalipun motor educability merupakan kemampuan dasar, akan berkembang lebih baik apabila didukung oleh kondisi fisik yang baik melalui latihan atau berolahraga. Setiap keterampilan bersifat khusus, yaitu dengan (force) otot yang digunakan serta kekhususan sudut persendian (fleksibility).”
Pertumbuhan yang baik serta usia anak akan memengaruhi kemampuan bergerak, berpikir, dan belajar termasuk kecakapan dasar atau intelegensi yang dimiliki oleh setiap individu sehingga dalam memperoleh kemampuan motor educability tidak harus melalui proses latihan sebagaimana kesegaran jasmani. Scanidt (dalam Lutan, 1988:76) mengatakan,”Kemampuan diartikan sebagai ciri individu yang diwariskan dan relatif abadi yang mendasari serta medukung terbentuknya keterampilan.” Walaupun demikian, latihan (beroahraga) akan menjadi faktor pendukung dalam meningkatkan secara totalitas, baik aspek fisik maupun psikis.
Kemampuan dasar atau intelegensi berperan dalam mengingat, berpikir, dan menganalisis serta merupakan faktor bawaan (heredity). Sehubungan dengan itu, yang menjadi faktor internal yang mendukung terbentuknya kemampuan motor educability sebagaimana yang dikemukakan oleh Lutan (1988:115);
Kemampuan intelegensi yan dipahami sebagai kemampuan dasar dan sangat ditentukan oleh faktor heredity kemudian ditunjang oleh faktor gisi sejak usia dalam kandungan hingga berusia tiga tahun. Tentang bagaimana perkembangan kecakapan dan phisikologis secara umum. Maka faktor lingkungan serta pengetahuan dan wawasan dari orang yang disekitarnya dan dari dalam orang itu sendiri akan sangat banyak mendukung.
Seorang siswi akan memiliki kemampuan motor educability yang baik apabila aktif melakukan latihan (berolahraga). Dia mampu pula mempelajari secara cepat dan cermat serta kecakapan dasar yang memberi kontribusi kepada keterampilan motorik. Keterampilan motorik membutuhan komponen sebagaimana yang terdapat dalam komponen kesegaran jasmani, yaitu kecepatan, kekuatan otot, kelentukan, daya ledak, keseimbangan, kelincahan, kecepatan reaksi, dan koordinasi gerak.
Kemampuan motor educability siswi perlu diketahui oleh setiap guru pendidikan jasmani karena saat beraktivitas di lapangan, kondisi fisik dan psikologis akan berinteraksi sebagai suatu kesatuan yang tak terpisahkan dan berisiko terjadi cidera. Sesuatu yang tidak diinginkan namun merupakan tanggung jawab guru pendidikan jasmani untuk menghindari dan meminimalis risiko yang akan terjadi.
Dengan mengetahui kemampuan motor educability siswi maka guru pendidikan jasmani akan melakukan penyesuaian kembali pengalaman belajar yang cocok bagi siswinya berdasarkan prinsip paedagogis, dan tujuan yang dicapai. Selain itu, guru pendidikan jasmani mempunyai pengetahuan tentang keadaan siswi sampai kepada isi pelajaran dan kelangsungan proses belajar itu sendiri. Hasil analisis yang dilakukan Lewis (dalam Lutan, 1988:393) mengatakan, ”Komunikasi terdiri dari proses, yaitu seseorang berusaha mengurangi sekecil mungkin faktor ketidakpastian atau ketidakjelasan yang terkandung dalam isi pesan.” Artinya, faktor persepsi, kecermatan dari pihak penyampai (guru) dan penerima pesan (siswi) serta interaksi timbal balik merupakan unsur yang penting dalam komunikasi. Kedua belah pihak harus mampu dan bersedia menangkap buah pikiran masing-masing. Kondisi seperti ini harus dipahami dan diterima sebagai bahagian proses belajar dan mengajar.
Apabila motor educability seseorang baik, ada kemungkinan akan cepat menguasai gerakan dengan baik, sekaligus memberikan gambaran tentang kemampuan intelegensi siswi itu sendiri. Rani (dalam syarifuddin, 1993;21) mengatakan”Keterampilan gerak adalah kemampuan yang efesien dalam melakukan suatu tugas.” Pengalaman dalam belajar (olahraga) akan memengaruhi pula keterampilan gerak.
Ketika seorang siswi memperhatikan contoh suatu gerakan, kemudian melakukannya sendiri akan memberikan kontribusi, yaitu persepsi kinestesis yang membutuhkan konsentrasi untuk merasakan suatu gerakan. Kemampuan berketerampilan motorik seperti motor educability oleh siswi di sekolah bukanlah bertujuan untuk mencapai suatu prestasi olahraga, melainkan aktivitas di lapangan berupa pendidikan jasmani. Selain itu, diarahkan untuk mengembangkan kapasitas setiap individu untuk digunakan dalam kegiatan apa saja yang dipilihnya, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Dengan demikian, perlu memperhatikan keterampilan karena merupakan faktor utama dalam suatu aktivitas gerak anak ditambah dengan skill yang baik.
a. Keterampilan(skill)
Istilah keterampilan itu sendiri memiliki beberapa pengertian yang telah dipakai dalam beberapa versi dalam literature tentang prilaku motorik. Yang lazim dipakai ialah keterampilan dipandang sebagai suatu perbuatan atau tugas, dan lainnya sebagai sebuah indikator dari tingkat kemahiran. Jika suatu keterampilan dipandang sebagai aksi motorik atau pelaksanaan suatu tugas (task), keterampilan itu akan terdiri dari sejumlah respon motorik dan persepsi yang diperoleh melalui belajar. Keterampilan itu dapat dipahami sebagai indikator dari tingkat kemahiran atau penguasaan sesuatu hal yang memerlukan gerak tubuh. Penguasaan suatu keterampilan motorik merupakan sebuah proses, yakni seseorang mengembangkan seperangkat respons ke dalam suatu gerak yang terkoordinasi, terorganisir, dan terpadu. Setiap keterampilan motorik membutuhkan pengorganisasian gerakan otot baik dalam aspek tempat dan waktu. Pengorganisasian otot menurut tempatnya berarti terdapat sekelompok otot yang terpilih untuk melakukan suatu gerakan pengorganisasian otot menurut waktu. Dengan kata lain, otot-otot berkontraksi atau relaksasi harus terjadi pada waktu yang tepat dan serasi.
Sebagai indikator dari tingkat kemahiran, keterampilan diartikan sebagai kompetensi yang diperagakan oleh seseorang dalam menjalankan suatu tugas berkaitan dengan dengan pencapaian tujuan yang diharapkan, maka orang itu disebut makin terampil. Seorang pemain bola basket yang mampu memasukkan bola meskipun dijaga oleh 2-3 pemain lawan secara ketat disebut sebagai pemain terampil.
Secara operasional, definisi terampil biasanya dipergunakan untuk menyatakan respons nyata terhadap suatu stimulus yang terkontrol. Respons itu dicatat berdasarkan kesalahan, respons yang betul, frekuensi, atau cepat lambatnya reaksi. Istilah terampil juga dapat dinyatakan untuk menggambarkan tingkat kemahiran seseorang melaksanakan suatu tugas. Seorang pemula yang baru mengenal bagimana cara bermain bulutangkis misalnya, akan memperlihatkan koordinasi gerak yang kaku, pukulannya sering keluar, atau tak dapat mengontrol bola yang masuk atau keluar dengan cermat. Pemain tersebut dapat digolongkan kurang terampil.
b. Kemampuan motorik
Kemampuan motorik dan keterampilan bukanlah sebagai konsep yang sama pengertiannya. Kemampuan motorik lebih tepat disebut sebagai kapasitas dari seseorang yang berkaitan dengan pelaksanaan dan peragaan suatu keterampilan yang relatif melekat setelah masa kanak-kanak. Pengaruh faktor biologis dianggap sebagai kekuatan utama yang berpengaruh terhadap kemampuan motorik dasar seseorang. Kemampuan motorik dasar itulah yang kemudian berperan sebagai landasan bagi perkembangan keterampilan. Selain itu, keterampilan banyak tergantung pada kemampuan dasar.
Keseimbangan, kecepatan reaksi, dan fleksibilitas adalah contoh-contoh dari kemampuan dasar yang penting untuk melaksanakan berbagai keterampilan dalam olahraga. Akhirnya, untuk kebutuhan analisis lebih lanjut, keterampilan dapat diklasifikasikan menjadi kategori dalam suatu proses keterampilan. Sehubungan dengan hal tersebut, Harsuki,(2006:53) mengakatakan,”Keterampilan neuromuskuler atau matorik adalah keterampilan yang dapat dipelajari untuk suatu kenerja yang efesien, konsisten, dan aman.”
Agus Mahendra, Sugiyanto, Toto Subroto. 2004. Dasar-dasar Belaja Gerak, Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah.
Greg Brittenham,MS 2002. Panduan Lengkap Latihan Khusus Pemantapan. Bola Basket. Knesiologi. KNIC-New York.
Terbuka Departemen Pendidikan Nasional.
Hamalik, Oemar. 1987.Phisikologi Belajar Mengajar, Jakarta: Sinar Baru Algesindo.
Harsono, 1998. Coaching dan Aspek-aspek psikologis Dalam Coaching. Jakarta: P2LPTK Ditjendikti Depdikbud.
Hazeldine R. 1992. Fitness for Sport, Trowbridge, Edward Burn Limited.
__________1992, A Training for Sport and Fitness, Melbourne: The Mc. Millan Co. of Australia PTY Ltd.
McCloy. 1934-1937. Practical Measurements For Evaluation In Phisical Education ,Barry L Johnson. Texas: Carpus Chiristi State University, Carpus Chiristy.
Paulus Pasurney. 2006. “Komsumsi Oksigen Maksimal(VO2max)”, Jurnal IPTEK Olahraga. Jakarta: Litbang KONI Pusat
Rusli Lutan. 2005. Teori belajar keterampilan motorik konsep dan penerapannya. Jakarta: Departemen pendidikan dan kebudayaan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Proyek Pengembangan Pendidikan Tinggi dan Tenaga Kependidikan.
___________1988. Belajar Keterampilan Motorik, Pengantar Teori dan Metode. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Proyek Pengembangan Pendidikan Tinggi Dan Tenaga Kependidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar